Jumat, 25 November 2011

TUGAS MATA KULIAH AKHLAQ TASAWUF

I.            IDENTITAS MATA KULIAH
Mata Kuliah : Akhlak Tasawuf ,   Komponen : Mata Kuliah Wajib INSURI Ponorogo,    Dosen Pengampu : Asmawi Anwar.
II.          DESKRIPSI MATA KULIAH Kajian mata kuliah ini membahas dan mengkaji dimensi prilaku manusia dari aspek norma baik dan buruk untuk diorientasikan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam kontek individual maupun sosial yang dilandasi oleh proses spritualitas (tazkiah al-nafs). Tasawuf adalah ajaran untuk mengenal dan mendekatkan diri kepada Allah Swt. sehingga memperoleh kesadaran ketuhanan (God Consciousness). Oleh karena itu, tasawuf erat sekali hubungannya dengan akhlak. Akhlak yang baik timbul dari kebersihan hati, kesucian ruh, kestabilan pribadi, kemurniana sifat dan watak, karena kekuatan hati telah dialiri oleh arus kekuatan Ilahiyah. Akhlak terpuji dapat mengarahkan pada sesuatu yang sempurna atau mengarahkan pada pembentukan kepribadian yang utuh.
III.       KOMPETENSI DASAR Mahasiswa dapat menguraikan tujuan dan manfaat akhlaq tasawuf bagi kehidupan individu dan masyarakat, dan mampu mendialogkan secara epistemology antara Tasawuf dengan Psikologi.
IV.              POKOK BAHASAN/SUB POKOK BAHASAN  1. Persoalan Modernitas dan Pentingnya Akhlaq Tasawuf 2. Pengertian Etika, Moral, Akhlaq dan Tasawuf 3. Sejarah dan Perkembangan Tasawuf dalam Islam 4. Klasifikasi Akhlak a. Al-Akhlaq al-Mahmudah b. Al-Khlaq al-Mazmumah 5. Baik dan Buruk dalam terminology Akhlaq 6. Kebebasan dan Hati Nurani sebagai Tanggungjawab Pembentukan Akhlaq 7. Akhlak dan Problem Kebahagiaan 8. Term-term dalam tasawuf dan hubungannya dengan Psikologi a. Penyucian Jiwa (Maqomat dan Ahwal) b. Insan al-Kamil c. Unsur-unsur kejiwaan manusia 9. Tasawuf sebagai Pendekatan Psikoterapi
V.                SISTEM PERKULIAHAN 1. Diskusi interaktif. 2. Ceramah/kuliah tatap muka. 3. Penugasan mandiri/kelompok. 4. Studi Naskah/Opini/Hasil Penelitian.
VI.              SISTEM EVALUASI Penilaian Akhir Mata kuliah ini didasarkan pada komponen : 1. Partisipasi / Presensi Kelas : 15 % 2. Tugas-tugas : 15 % 3. Tes Tengah Semester : 35 % 4. Tes Akhir Semester : 35 %
VII.           REFERENSI Abdullah M. Yatim, Pengantar Studi Etika, (Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada, 2006) Abudin Nata, Akhlaq Tasawuf, (Jakarta : RajaGrafindo Persada, 2000) Ahmad Amin, Ilmu Akhlak, (Jakarta : Bulan Bintang, 1975) Hasyim Muhammad, Dialog Antara Tasawuf dan Psikologi, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2002) Inayat Khan, Dimensi Spritual Psikologi, (Bandung : Pustaka Hidayah, 2000) Madjid Fakhry, Etika dalam Islam, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 1996). M. Thoyib dan M. Ngemron (Ed), Psikologi Islam, (Surakarta : Muhamadiyah University Press, 2000). Ahkmad Khalil, Merengkuh Bahagia; Dialog al-Qur’an, Tasawuf dan Psikologi, (Malang : UIN-Malang Press, 2007), Harun Nasution, Filsafat dan Mistisme dalam Islam, (Jakarta : Bulan Bintang, 1999), S. H. Nasr. Spiritualitas dan Seni Islam. (Bandung: Mizan, 1993), Imam Al-Ghazali, Ihya 'Ulumuddin, (Beirut: Daar al-Fikr) Achmad Mubarok, Jiwa dalam Al-Qur'an (Jakarta: Paramadina, 2000), 'Uthman Najati, M., Al-Dirasah al-Nafsaniyyah 'inda al-'Ulama' al-Muslimin, terj. (Bandung: Pustaka Hidayah, 2002), Abdul Mujib, Kepribadian dalam Psikologi Islam, (Jakarta : RajaGrafindo Persada, 2007). Drs. Ha. Musthofa, Akhlaq Tasawuf, Pustaka Setia.


TUGAS KELOMPOK :
Kelompok I. Persoalan Modernitas dan Pentingnya Akhlaq Tasawuf (Politik, Sosial, Budaya)
Kelompok II. Pengertian Etika, Moral, Akhlaq dan Tasawuf 
Kelompok III. Sejarah dan Perkembangan Tasawuf dalam Islam 
Kelompok IV. Klasifikasi Akhlak a. Al-Akhlaq al-Mahmudah b. Al-Khlaq al-Mazmumah 
Kelompok V. Baik dan Buruk dalam terminology Akhlaq 
Kelompok VI. Kebebasan dan Hati Nurani sebagai Tanggungjawab Pembentukan Akhlaq 
Kelompok VII. Akhlak dan Problem Kebahagiaan 
Kelompok VIII. Term-term dalam tasawuf dan hubungannya dengan Psikologi a. Penyucian Jiwa (Maqomat dan Ahwal) b. Insan al-Kamil c. Unsur-unsur kejiwaan manusia  

Rabu, 10 November 2010

MERESPON EMOSI ANAK

Bahagia, mesra, berminat, bergairah, bangga, berhasrat, mencintai, dicintai, bersyukur, tegang, emosi, sakit hati, sedih, terganggu, marah, kasihan, jijik, bersalah, iri hati, menyesal, malu, senang, merasa sendiri, takut, putus asa dan puas penuh harapan. Itulah macam-macam emosi pada anak, nah maksudnya untuk apa macam-macam emosi ditulis? to the point aja, pada tulisan ini mengenai bagaimana merespon emosi anak, sebagai orang tua/kakak/paman/tante sering kita berhadapan dengan anak kecil dan adakalanya si anak menunjukkan emosinya sehingga ketika merespon emosi si anak, kita bisa mempertimbangkan apa sepatutnya yang harus disampaikan kepada dia dengan membaca beberapa respon terhadap emosi anak dan apa akibatnya terhadap anak dibawah ini, kita akan tahu juga apa akibatnya pada anak.

A. Respon Mengabaikan
1. Memperlakukan perasaan-perasaan anak sebagai hal yang tidak penting, remeh.
2. Ingin agar emosi negatif si anak hilang dengan cepat.
3. Biasanya menggunakan pengalih perhatian untuk menutup emosi-emosi si anak.

Akibatnya terhadap si anak
Anak belajar bahwa perasaan mereka keliru atau tidak tepat. Mengira ekspresi emosinya sudah dari sananya, dan cenderung menghadapi kesulitan untuk mengatur emosi-smosi mereka.

B. Respon Tidak Menyetujui
1. Menilai dan mengecam ungkapan emosional si anak.
2. Menekankan kepatuhan terhadap pedoman/tingkah laku yang baik.
3. Percaya bahwa ungkapan emosi-emosi negatif itu harus dibatasi waktunya.

Akibatnya terhadap si anak
Akibatnya sama dengan respon mengabaikan. Anak mengira bahwa perasaan-perasannya keliru atau tidak tepat. Kemungkinan anak akan menghadapi kesulitan dalam mengatur emosi-emosi mereka.

C. Respon Laissez-Faire
1. Dengan bebas menerima semua ungkapan dari si anak.
2. Menawarkan penghiburan pada si anak yang sedang mengalami emosi negatif.
3. Memberikan sedikit petunjuk mengenai tingkah laku.

Akibatnya terhadap si anak
Anak tidak belajar mengatur emosi mereka, mereka menghadapi kesulitan berkonsentrasi, menjalin persahabatan, bergaul dengan anak lain.

D. Respon Pelatih Emosi
1. Menghargai emosi-emosi negatif anak sebagai sebuah kesempatan untuk semakin akrab.
2. Sabar menghabiskan waktu dengan seorang anakyang sedih, marah atau ketakutan, tidak menjadi berang menghadapi emosi anak.
3. Sadar dan menghargai emosi-emosinya sendiri.

Akibatnya terhadap si anak
Anak belajar mempercayai perasaan-perasaannya, mengatur emosi-emosi mereka sendiri dan menyelesaikan masalah-masalahnya. Anak mempunyai harga diri yang tinggi, belajar dengan baik, dan bergaul dengan orang lain secara baik-baik.

Nah bagaimana selama ini kita merespon emosi si anak? apa sudah mempertimbangkan akibatnya bagi dia?
Mungkin anda tertarik juga membaca ukur EQ Anak , EQ bayi dipengaruhi perilaku ayahnya,

Buah Hati










Senin, 08 November 2010

MODALITAS DALAM PEMBELAJARAN 2

Auditorial
Model pembelajar auditori adalah model di mana seseorang lebih cepat menyerap informasi melalui apa yang ia dengarkan. Penjelasan tertulis akan lebih mudah ditangkap oleh para pembelajar auditori ini. Ciri-ciri orang-orang auditorial, di antaranya adalah:
1. Lebih cepat menyerap dengan mendengarkan
2. Menggerakkan bibir mereka dan mengucapkan tulisan di buku ketika membaca
3. Senang membaca dengan keras dan mendengarkan
4. Dapat mengulangi kembali dan menirukan nada, birama, dan warna suara.
5. Bagus dalam berbicara dan bercerita
6. Berbicara dengan irama yang terpola
7. Belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan daripada yang dilihat
8. Suka berbicara, suka berdiskusi, dan menjelaskan sesuatu panjang lebar
9. Lebih pandai mengeja dengan keras daripada menuliskannya
10. Suka musik dan bernyanyi
11. Tidak bisa diam dalam waktu lama
12. Suka mengerjakan tugas kelompok

Kinestetik
Model pembelajar kinestetik adalah pembelajar yang menyerap informasi melalui berbagai gerakan fisik. Ciri-ciri pembelajar kinestetik, di antaranya adalah:
1. Selalu berorientasi fisik dan banyak bergerak
2. Berbicara dengan perlahan
3. Menanggapi perhatian fisik
4. Suka menggunakan berbagai peralatan dan media
5. Menyentuh orang untuk mendapatkan perhatian mereka
6. Berdiri dekat ketika berbicara dengan orang
7. Mempunyai perkembangan awal otot-otot yang besar
8. Belajar melalui praktek
9. Menghafal dengan cara berjalan dan melihat
10. Menggunakan jari sebagai penunjuk ketika membaca
11. Banyak menggunakan isyarat tubuh
12. Tidak dapat duduk diam untuk waktu lama
13. Menggunakan kata-kata yang menandung akso
14. Menyukai buku-buku yang berorientasi pada cerita
15. Kemungkinan tulisannya jelek
16. Ingin melakukan segala sesuatu
17. Menyukai permainan dan olah raga
Selain berhubungan dengan cara menyerap informasi, gaya belajar juga berhubungan dengan bagaimana seseorang memproses dan mengolah informasi tersebut. Howard Gardner menyebutkan, bahwa cara seseorang memproses dan mengolah informasi ini sangat erat berhubungan dengan kecenderungan kecerdasan yang dimilikinya. Dalam pandangan Gardner, kecerdasan ini tidak hanya tunggal, tetapi masing-masing orang memiliki kecerdasan berbeda-beda, yang disebut sebagai kecerdasan majemuk (multiple intelligence).
Kecerdasan majemuk bisa dirinci menjadi delapan kecerdasan, yaitu:
1. Kecerdasan Linguistik, berkaitan dengan kemampuan membaca, menulis, berdiskusi, berargumentasi dan berdebat.
2. Kecerdasan Matematis-Logis, berkaitan dengan kemampuan berhitung, menalar dan berpikir logis, memecahkan masalah.
3. Kecerdasan Visual-Spasial, berkaitan dengan kemampuan menggambar, memotret, membuat patung, mendesain.
4. Kecerdasan Musikal, berkaitan dengan kemampuan menciptakan lagu, mendengar nada dari sumber bunyi atau alat-alat musik.
5. Kecerdasan kinestetik, berkaitan dengan kemampuan gerak motorik dan keseimbangan.
6. Kecerdasan Interpersonal, berkaitan dengan kemampuan bergaul dengan orang lain, memimpin, kepekaan soasial, kerja sama dan empati.
7. Kecerdasan Intrapersonal, berkaitan dengan pemahaman terhadap diri sendiri, motivasi diri, tujuan hidup dan pengembangan diri.
8. Kecerdasan Naturalis, berkaitan dengan kemampuan meneliti perkembangan alam, melakukan identifikasi dan observasi terhadap lingkungan sekitar.
Dari delapan kecerdasan di atas, setiap orang mempunyai kecenderungan untuk memiliki salah satu kecerdasan yang menonjol dibandingkan dengan kecerdasan lainnya. Kecerdasan yang menonjol inilah yang perlu dieskplorasi karena merupakan kecenderungan seseorang yang paling besar yang menjadi gaya belajarnya.
Seseorang dengan kecenderungan pembelajar kinestetis misalnya, sangat mungkin memiliki kecerdasan kinestetis juga, di mana kecenderungan belajarnya lebih banyak menggunakan pembelajaran fisik, dalam arti lebih senang bergerak daripada diam. Hal ini yang mungkin terjadi pada Budi di awal cerita ini. Karena lebih nyaman dengan model pembelajaran kinestetik, ia lebih suka untuk melakukan proses belajar di luar keras, melakukan praktik dan kerja kelompok, serta simulasi dan berbagai permainan yang menyenangkan.
Mengetahui Cara Belajar Siswa
Namun demikian, dalam prakteknya juga tidak mudah mengetahui gaya belajar siswa. Ada beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk mengetahui gaya belajar ini.
Cara Pertama, adalah dengan menggunakan observasi secara mendetail terhadap setiap siswa melalui penggunaan berbagai metode belajar mengajar di kelas. Gunakan metode ceramah secara umum, catatlah siswa-siswa yang mendengarkan dengan tekun hingga akhir. Perhatikan siswa-siswa yang “kuat” bertahan berapa lama dalam mendengar. Klasifikasikan mereka sementara dalam golongan orang-orang yang bukan tipe pembelajar yang cenderung mendengarkan. Dari sini kita bisa mengklasifikasikan secara sederhana tipe-tipe siswa dengan model-model pembelajar auditori yang lebih menonjol.
Metode lain bisa digunakan, misalnya dengan memutar film, menunjukkan gambar atau poster, dan juga menunjukkan peta ataupun diagram. Dengan proses belajar mengajar seperti ini, kita bisa melihat para siswa yang mempunyai kecenderungan belajar secara visual dan juga mempunyai kecerdasan visual-spasial akan lebih tertarik dan antusias.
Setelah itu, cobalah dengan metode pembelajaran menggunakan praktek atau simulasi. Para pembelajar kinestetik tentu saja akan sangat antusias dengan model belajar mengajar semacam ini. Begitu seterusnya kita melihat bagaimana reaksi siswa terhadap setiap model pembelajaran sehingga lambat laun kita akan lebih mudah memahami dan mengetahui kecenderungan gaya belajar yang mereka.
Cara Kedua, adalah dengan memberikan tugas kepada siswa untuk melakukan pekerjaan yang membutuhkan proses penyatuan bagian-bagian yang terpisah, misalnya menyatukan model rumah yang bagian-bagiannya terpisahkan. Ada tiga pilihan cara yang bisa dilakukan dalam menyatukan model rumah ini, pertama adalah melakukan praktek langsung dengan mencoba menyatukan bagian-bagian rumah ini setelah melihat potongan-potongan yang ada; kedua adalah dengan melihat gambar desain rumah secara keseluruhan, baru mulai menyatukan; dan ketiga adalah petunjuk tertulis langkah-langkah yang diperlukan untuk membangun rumah tersebut dari awal hingga akhir.
Pembelajar visual akan cenderung memulai dengan melihat gambar rumah secara utuh. Ia lebih cepat menyerap melalui gambar-gambar tersebut sebelum menyatukan bagian-bagian rumah secara keseluruhan. Pembelajar auditory cenderung membaca petunjuk tertulis mengenai langkah-langkah yang diperlukan untuk membangun rumah, dan tidak terlalu mempedulikan gambar yang ada. Sedangkan pembelajar kinestetik akan langsung mempraktekkan dengan mencoba-coba menyatukan satu bagian dengan bagian yang lain tanpa terlebih dahulu melihat gambar ataupun membaca petunjuk tulisan. Dari pengamatan terhadap cara kerja siswa dalam menyelesaikan tugas ini, kita akan lebih memahami gaya mengajar siswa secara lebih mendetail.
Cara Ketiga, merupakan cara yang lebih komprehensif yaitu dengan melakukan survey atau tes gaya belajar. Namun demikian, alat survey ataupun tes ini biasanya mengikat pada satu konsultan atau psikolog tertentu sehingga jika kita ingin melakukan tes tersebut harus membayar dengan sejumlah biaya tertentu, yang terkadang dirasa cukup mahal. Namun demikian, karena menggunakan metodologi yang sudah cukup teruji, biasanya survey atau tes psikologi semacam ini mempunyai akurasi yang tinggi sehingga memudahkan bagi guru untuk segera mengetahui gaya belajar siswa.
Nah, dari ketiga cara mengetahui gaya belajar siswa di atas tergantung kita untuk menggunakan cara yang mana. Cara pertama dan kedua membutuhkan usaha yang keras dari kita dalam memetakan dan mengklasifikasikan gaya mengajar siswa yang terdapat dalam satu kelas. Namun demikian, kedua cara ini tidak membutuhkan biaya yang mahal. Untuk lebih akurat, memang cara ketiga bisa diambil, namun konsekuensinya tentu saja perlu mengeluarkan biaya untuk survey ataupun tes gaya belajar.
Mengajar dengan Gaya Belajar Siswa yang Berbeda
Setelah mengetahui gaya belajar siswa dan kecenderungan kecerdasan yang paling menonjol dimilikinya, saatnya sebagai guru kita menyesuaikan dengan gaya belajar mereka. Bagaimana kita menyesuaikan diri dengan gaya belajar mereka masing-masing?
Untuk pembelajar visual, di mana lebih banyak menyerap informasi melalui mata, hal-hal yang bisa kita lakukan untuk memaksimalkan kemampuan belajar mereka adalah:
1. Biarkan mereka duduk di bangku paling depan, sehingga mereka bisa langsung melihat apa yang dituliskan atau digambarkan guru di papan tulis.
2. Selain tulisan, buatlah lebih banyak bagan-bagan, diagram, flow-chart menjelaskan sesuatu.
3. Putarkan film.
4. Minta mereka untuk menuliskan poin-poin penting yang harus dihapalkan.
5. Gunakan berbagai ilustrasi dan gambar.
6. Tulis ulang apa yang ada di papan tulis.
7. Gunakan warna-warni yang berbeda pada tulisan.
Untuk pembelajar auditory, di mana mereka lebih banyak menyerap informasi melalui pendengaran, hal-hal yang bisa dilakukan untuk memaksimalkan kemampuan belajar mereka adalah:
1. Gunakan audio dalam pembelajaran (musik, radio, dll)
2. Saat belajar, biarkan mereka membaca dengan nyaring dan suara keras.
3. Seringlah memberi pertanyaan kepada mereka.
4. Membuat diskusi kelas.
5. Menggunakan rekaman.
6. Biarkan mereka menjelaskan dengan kata-kata.
7. Biarkan mereka menuliskan apa yang mereka pahami tentang satu mata pelajaran.
8. Belajar berkelompok.
Sedangkan untuk pembelajar kinestetic, di mana mereka lebih banyak menyerap informasi melalui gerakan fisik, hal-hal yang bisa dilakukan untuk memaksimalkan kemampuan belajar mereka adalah:
1. Perbanyak praktek lapangan (field trip).
2. Melakukan demonstrasi atau pertunjukan langsung terhadap suatu proses.
3. Membuat model atau contoh-contoh.
4. Belajar tidak harus duduk secara formal, bisa dilakukan dengan duduk dalam posisi yang nyaman, walaupun tidak biasa dilakukan oleh murid-murid yang lain.
5. Perbanyak praktek di laboratorium.
6. Boleh menghapal sesuatu sambil bergerak, berjalan atau mondar-mandir misalnya.
7. Perbanyak simulasi dan role playing.
8. Biarkan murid berdiri saat menjelaskan sesuatu.
Dalam prakteknya, satu kelas biasanya terdiri dari tiga kelompok pembelajar semacam ini. Karena itulah, tidak bisa seorang guru hanya mempraktekkan satu metode belajar mengajar untuk diterapkan di seluruh kelas. Bayangkan jika guru mengajar hanya dengan metode ceramah mulai dari awal hingga akhir. Jika dalam satu kelas kecenderungannya lebih banyak pembelajar visual atau kinestetis, maka yang terjadi adalah suasana yang tidak menyenangkan.
Orang-orang visual dan kinestetis akan mulai merasa bosan dengan apa yang diomongkan, hingga yang terjadi mereka akan mulai mencari perhatian dengan berbagai hal yang mengganggu. Ada yang tidak mendengarkan, tidur di kelas, ataupun berlarian ke sana kemari karena tidak tahan untuk terus menerus mendengarkan apa yang dijelaskan oleh guru di dalam kelas.
Nah, dalam situasi semacam ini, guru-guru kreatif dan mempunyai inovasi yang tinggi akan segera mengganti proses belajar mengajar dengan mempertimbangkan keragaman gaya belajar siswa. Tidak lagi kemudian menggunakan metode ceramah, tetapi menggunakan metode yang lain yang memungkinkan, misalnya diskusi kelompok ataupun mengajak mereka dalam suatu permainan agar tidak membosankan.
Namun demikian, yang masih sering terjadi adalah, karena guru merasa tidak diperhatikan, mereka kemudian menggunakan kekuasaan mereka sebagai guru dengan melakukan bentakan yang keras, biasanya disertai ancaman kalau tidak mendengarkan maka mereka akan mendapatkan hukuman.
Pola belajar mengajar semacam ini tidak saja membuat proses belajar mengajar menjadi sesuatu yang mengerikan dan membuat trauma bagi anak didik, tetapi juga mengaduk-aduk dan menyita emosi guru secara terus menerus. Akibatnya, bisa ditebak, tekanan kerja yang semakin berat membuat proses belajar mengajar bagi guru menjadi beban yang tidak lagi menyenangkan.
Situasi semacam ini melahirkan “kalah-kalah”, di mana guru kalah karena walaupun sudah bekerja keras tetapi tidak bisa menikmati pekerjaannya, sementara bagi siswa juga kalah karena proses belajar mengajar tidak lagi menjadi proses yang menyenangkan, tetapi membuat trauma dan kesedihan untuk belajar.
Karena itulah, kreativitas dan kemampuan guru untuk memahami gaya belajar siswa sangat penting agar suasana di dalam kelas bisa dibangun dengan lebih kondusif dan menyenangkan untuk belajar. Dengan demikian, sekolah akan menjadi tempat yang menyenangkan, bagi guru, siswa, dan semua pihak yang terlibat di dalamnya.

Sabtu, 06 November 2010

MODALITAS DALAM PEMBELAJARAN 1

Setiap anak yang dilahirkan dari bundanya dia memiliki fitrah yang ternyata tidak hanya sekedar bermakna suci atau bersih atau seperti kertas putih yang belum ada polesannya seperti teori tabularasa yang menyatakan bahwa anak lahir seperti kertas putih, tetapi lebih dari itu bahwa anak memiliki potensi yang hebat dari Yang Maha Kuasa, berupa sel syaraf yang sedemikian banyak hingga mencapai 100 M, dan setiap sel memiliki koneksitas dengan yang lainnya dari 2000 s/d 22000 sambungan (dendrit).
Dengan potensi yang ada tersebut, sel syaraf juga diberi sensor untuk menerima rangsangan dari luar dengan cepat untuk memahami hal yang terjadi. Hanya saja masing-masing memiliki kepekaan sendiri-sendiri strategi dasar yang dimiliki yang itu merupakan limpahan karunia dari Yang Kuasa. Sehingga tepat yang disampaikan Rasul :
كل مولود يولد على الفطرة

Bahwa setiap anak yang lahir dalam kondisi fitrah (memiliki potensi)
Sehingga Allah SWT juga berpesan dalam Al Qur'an Surat An Nisa' : 8 sebagai berikut ::
واليخش الذين لو تركوا من خلفهم ذرية ضعافا خافوا عليهم فاليتقواالله واليقولوا قولا سديدا
"dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)mereka oleh sebab itu mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan yang benar."
Setelah disimak dengan jeli ada pertanyaan yang menggelitik dari ayat di atas, kenapa diakhir ayat Allah menyarankan dengan kalimat "hendaklah mereka mengucapkan yang benar". Kalimat tersebut ternyata sebuah pesan yang hebat, manusia harus mampu menyampaikan dengan bahasa yang benar, metode yang benar dengan menyesuaikan modal dasar serta potensi yang ada.
Dan ternyata setiap anak memiliki daya serap dan metode yang berbeda-beda dalam melakukakan pembelajaran yang kemudian disebut sebagai modalitas.
Modalitas belajar adalah cara kita menyerap informasi melalui indera yang kita miliki. Masing-masing orang mempunyai kecenderungan berbeda-beda dalam menyerap informasi. Terdapat tiga modalitas belajar ini, yaitu Visual, Auditoriy dan Kinetethic.
Visual 
Modalitas ini menyerap materi dengan visual (idera penglihatan) terkait dengan warna, gambar, diagram. Pembelajar dengan modalitas seperti ini ciri-cirinya yang umum antara lain :
  1.  Suka membeca apa saja
  2. Mampu membaca dengan cepat
  3. Lebih suka membaca daripada dibacakan
  4. Suka membuat coretan-coretan saat berpikir, berpikir, mencatat dan menelpon
  5. Cenderung menyukai lukisan daripada musik
  6. Lebih suka mengirim SMS, memo, surat, atau e-mail daripada menelpon atau bicara langsung
  7. Lebih mudah mengingat apabila belajar langsung dari catatan/hand out/laporan daripada dibacakan atau dipresentasikan
  8. Suka memperhatikan detail tulisan atau laporan
  9. Tulisan tangan biasanya bagus
  10. Konsentrasi tidak terlalu terganggu oleh suara
Atau ada pendapat lain bahwa pembelajar ini ciri-cirinya :
  1. Mengingat apa yang dilihat daripada yang didengar 
  2. Suka mencoret-coret sesuatu, yang terkadang tanpa ada artinya saat di dalam kelas
  3. Pembaca cepat dan tekun
  4. Lebih suka membaca daripada dibacakan
  5. Rapi dan teratur
  6. Mementingkan penampilan, dalam hal pakaian ataupun penampilan keseluruhan
  7. Teliti terhadap detai
  8. Pengeja yang baik
  9. Lebih memahami gambar dan bagan daripada instruksi tertulis
Adapun dari ciri-ciri fisik menurut Sutanto Windura (2008) antara lain 
  • Penampilan cenderung necis
  • Presentasinya rapi, deati dan tampilan slidenya bagus
  • Cenderung menggunakan pernapasan dada
  • Saat berpikir bola mata sering bergerak-gerak ke atas
Sedangkan dari cara bicaranya dapat ditelaah :
  1. Tutur bicaranya cepat 
  2. Nada suaranya cenderung tinggi
  3. Tahu apa yang mau dikatakan, tetapi kadang-kadang susah menemukan kata-kata yang cocok
  4. Manggunakan kata yang  bernuansa penglihatan , seperti : "mari kita lihat lebih teliti lagi", " nanti kita lihat apakah  dia benar atau salah", " saya punya sudut pandang yang berbeda","tolong cermati apa yang saya sampaikan" dan lain-lain.

Jumat, 05 November 2010

MENGGAPAI KEBENARAN

Tidak sedikit orang yang merasa paling benar namun ternyata dalam kesesatan. Inilah yang disbut merasa benar dalam kesesatan, alangkah pedihnya ....... Sehingga memang dibutuhkan kedewasaan dan kebijakan dalam memandang setiap masalah bukan watone benere dewe, tetapi harus yang bener menurut waton (aturan), dan harus berusaha mencapai bagaimana hakekat kebenarannya. Kebenaran hakiki pada dasarnya milikNya, tetapi manusia harus berusaha untuk menggapai hakekat kebenaran tersebut sekuatnya ....  dengan cara mensinergikan antara kehendak kita (manusia) dengan kehendakNYA melalui radar yang ada di hati kita, otak kita dan yang pasti melalui ayatNya baik Kauniah maupun Kalamiah.